The Arrival of my Little Bundle of Joy: Baby A

Sore itu, perasaan saya benar-benar campur aduk. Sahabatku, yang kebetulan sama-sama hamil dan tengah menanti hari menuju persalinannya, mengalami musibah. Buah hati sahabatku meninggal sebelum sempat dilahirkan. Selama kehamilan, kami merasakan suka duka menjadi pregnant-surgeon. Mulai dari posisi berdiri kami yang canggung sampai dengan rasa penat yang cepat melanda saat kehamilan kita sudah tua saat operasi. Dan yang paling menyenangkan: melihat anak yang beranjak sembuh khususnya untuk kasus yang hopeless.

Saya menanti di ruang praktek dokter kandungan, sendirian. Dokter Henry (a good old man with a comforting gesture) menyatakan kalau ketubanku sudah mulai berkurang, jadi sebaiknya kelahiran dipercepat. Esok hari saya akan menjalani pembedahan caesar.

Sebelum operasi, badanku terasa amat-sangat letih. Sebelum operasi, aku didampingi oleh suami, ayah dan adikku. Pembiusan dilakukan secara spinal dan berlangsung smooth. Saat pembiusan, saya didampingi oleh suami dan dokter obgyn yang benar-benar menenangkan.

Yang saya rasakan sangat mengganggu saat operasi adalah: 1) sakit gigi 2) leherku gatal- ternyata disebabkan oleh selimut yang dipakaikan. Setelah selimut dibuang, nafasku terasa lebih lega.

Saat baby-ku keluar, dan mendengarnya menangis, saya merasa amat sangat lega. Tidak lama, dokter anak menghampiri ke meja operasi, dan berkata kalau bayiku kondisinya baik. Dan all of sudden, semua rasa letih, nyeri dan sebagainya hilang. Berganti rasa kantuk dalam yang sulit ditahan. Saat itu, saya tidak minta diberi obat tidur.

Operasi berjalan lancar, dan saya berpindah ke ruang pemulihan. Disini dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD). Baby A berhasil, dan saya dipindahkan ke ruang rawat.

Di ruangan, saya mendapati banyak yang mendampingi. Alhamdulillah.. Saya mulai menyusu, dan pada awalnya saya memberikan susu formula untuk suplementasi ASI ku yang masih kurang. That moment when I breastfed my baby and look into his eyes, I feel that I am so blessed- a lot of gratitude and joy coming from inside me..

Everything is a learning process

Fase pemulihanku berjalan cukup baik. Hari kedua pasca operasi saya sudah bisa berjalan ke kamar mandi dan ke meja makan. Saya juga mandi di shower dan akhirnya bisa keramas. HORE!
Hari kedua pasca bedah, baby A mulai dirawat gabung (rooming in) dan disini saya merasa under pressure untuk memberikan ASI yang cukup. Di pagi hari, setelah menyusu, baby A minum cukup banyak dan bisa tidur tenang sesudahnya. Namun di sore hari menjelang malam, baby A terus terbangun karena kelaparan dan matanya mulai menguning. Haduhhh… Saya sempat sedih mengingat saya setengah “memaksa” untuk memberi ASI eksklusif. Akhirnya baby A diperiksa bilirubin dan ternyata kadarnya 14,0mg/dL; yang artinya perlu fototerapi. Jadilah kami tinggal di RS lebih lama- dan penyinaran direncanakan selama 2 hari. Semasa fototerapi, baby A saya upayakan minum ASI peras. Tapi saya sudah tidak memaksakan diri lagi. Suplementasi susu formula juga tidak masalah. Yang terpenting adalah bayi mau minum dan bisa istirahat cukup. That’s enough for me.

Aaannndd… We come HOME

This is our first trip together. Saya bersyukur saya mengajak baby sitter untuk menemani karena saat pulang, jelas baby A tidak nyaman dan akhirnya sang bayi digendong sampai ke rumah. Memang perjalanan dari RS ke rumah kami cukup bumpy, tapi sang bayi mau menghisap dari botol 40cc. Dia haus rupanya. Kami sampai di rumah dengan selamat. Dan kami semua tersenyum gembira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s