stashing 6 lt of breast milk during first month


halo! Kali ini aku akan berbagi cerita mengenai memompa ASI. Aku bertekad memberi ASI sesering dan selama mungkin untuk Giri, putra kedua kami. Si sulung,  hanya minum ASI selama 6 bulan karena waktu itu aku hamil lagi. Berhubung aku tiap kali nyusuin sering mulas, jadilah brestfeeding mesti dihentikan. Stok ASI yang ada juga habis dalam waktu seminggu.

Pada awalnya, si kecil mesti dirawat di NICU dan diharuskan puasa. Jadinya produksi ASI sedikit. Hari ke-3 ASI Peras (ASI-P) yang keluar hanya 5cc. Si kecil pun diberi tambahan minum susu formula melalui selang lambung. Tapi breast ya tetep dipompa. Setelah mulai menyusui  si kecil di usia 5 hari, barulah waktu dipompa keluar sebanyak 30cc. I was so happy see the milk dripping through the pump!

Pada usia 10 hari, si kecil sudah pulang dan di rumah ini lah aku mulai “rajin” menabung ASI-P. Memang mungkin tidak begitu banyak seperti ibu-ibu yang lain, tapi alhamdulillah bisa kekumpul 6 liter  waktu usianya 4 minggu. So, here’s what I do:

Peralatan:

  • Pompa elektrik ganda (double electric pump). Jauh lebih efektif daripada yang satu pompa. Punya saya merek Avent, dan barang ini sudah dipakai dari anak saya yang pertama dan setlah di abuse dengan dipakai sehari 3 sampai 4 kali setahun yang lalu, kondisinya masih baik.  Enaknya pakai Avent saya bisa memompa ASI sambil bersandar karena si Avent ini closed system. Tidak perlu kuatir asi akan tertarik ke mesin. 
  • Hands free bra. Saya punya 2 buah dari pump ease, harganya sekitar 300rb  di Indonesia. Tadinya sih aku mikir cukup mahal ya.. Tapi aku memang berencana memberi ASI selama mungkin, jadi aku anggap investment. Tutup mata dulu deh. Ada juga cara membuat DIY hands free bra:  Adikku menjahit sedikit kain yang tengahnya dilubangi di bra menyusui. Murah dan mudah.
  • breast milk storage: plastik ASI yang kokoh perlu banget. Saya pakai beberapa brand antara lain, Gabag, little Giant, natur, Avent dan Lansinoh. Saya juga pernah pakai botol dan freeze pod. Tapi, menurut ku yang paling praktis ya plastik ASI.
  • freezer. Saya menyewa freezer karena lemari es saya tidak muat untuk menyimpan ASI beku
  • Kulkas. Diperlukan untuk menyimpan ASI yang belum dibekukan dan peralatan pompa ASI.
  • nursing cover
  • botol susu
  • nipple cream
  • Haaka silicone breast pump untuk co-pumping

Strategi:

#1 pompa ASI di pagi hari. Biasanya saya bisa memperoleh dalam jumlah banyak

#2 ASI yang sudah dipompa saya kumpulkan  di botol susu di kulkas. Kalau sudah terkumpul sehari (24 jam maksimal mengumpulkan ASI) baru saya bagi dalam plastik. Biasanya dibagi dalam ukuran 80cc sd 130cc. Jangan terlalu banyak satu plastik soalnya takut terbuang kalau kebanyakan . 

#3 setelah memompa, pompa dan corongnya saya masukkan di ziplock bag dan disinpan di kulkas. Pompa saya cuci 1x sehari di malam hari (setelah pompa terakhir)

#4 pompa sesering mungkin yang kita bisa. Ada yang menganjurkan pompa per 3 jam, tapi saya hanya bisa 3x sehari. 

#5 co-pumping sesering mungkin saat menyusui bayi

DO:

  • relax saat memompa ASI. Pas anak pertama, saya rasanya haruss banget mengumpulkan ASI sebanyak mungkin sebelum kembali bekerja. Kali ini saya lebih rileks, dan berfikir “yang penting nutrisinya terpenuhi” dan nggak mikir mompa ASI ini jadi semacam target yang mesti diselesaikan.
  • Ketahui ukuran corong/flange yang pas di payudara. Corong yang pas tidak akan membuat payudara sakit. Saya ingat waktu beli pompa ASI ternyata corong bawaan dari Avent berukuran paling kecil sementara saya harus nya berukuran medium. Setelah ganti ukuran corong, asi yang keluar lebih lancar dan banyak.
  • Be organized and have a special spot.  Saya memompa ASI di satu spot khusus yang nyaman yaitu di spot meja belajar. Berhubung kombinasi kursi dan meja belajar sudah pas, saya ngerasa nyaman banget mompa ASI di sini sambil buka laptop  . Di samping meja, ada box yang saya isi perlengkapan pompa: mulai dari handsfree bra, breastpump, nipple cream, sampai ikat rambut. Kursi belajar saya, kebetulan bisa di recline (dibuat nyender) dengan nyaman.  Saya inget sekali dulu memompa ASI tanpa kursi hadeuh rasanya pinggang dan bahu legal banget. Ergonomics does matter mama’s!
  • My breastpumping spot.

  • Co-pumping.  Saat menyusui, breast/payudara yang sebelahnya di pompa dengan Haaka silicone breastpump. Praktis banget – nggak perlu colokan dan nggak berisik! Tadinya sebelum tahu Haaka aku coba pumping dengan Avent dan tentunya proses nya lebih ribet.  Dengan co-pumping ini saya bisa dapet 20cc sd 90cc sekali mompa. Kalau dikumpulkan seharian lumayan loh!
    Hasil co-pumping dengan Haaka
  • Know how to handle breast milk stash. Sebelum dan sesudah pompa ASI kita harus cuci tangan. Untuk mengetahui handling asi Peras, silakan klik artikel berikut.
  • Pompa ASI sesering Mungkin- without exhausting yourself! Memang semakin sering menyusui/dipompa maka produksi ASI pun semakin banyak. Tapi.. Jangan lupa rileks dan istirahat
  • Minum yang banyak dan ngemil secukupnya saat pompa ASI.

PLEASE DO NOT..

  • ngebanding-bandingin ASI Peras yang terkumpul dengan milik ibu lainnya. Boleh sih biar semangat, tapi jangan sampai buat kita down. You are doing the best you can mama!
  • melototin botol ASI pas di pompa. Seriously, this is just stressing out your boobs!
  • Forget to wash your hands before and after 

Kalau kamu pun saran/ komen mengenai memompa ASI jangan sungkan2 untuk nulis di comment yahh.. Salam sayang,

Surgeonmama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s