❓apakah kelainan ini
posisi testis/buah zakar tidak terletak di dalam skrotum (kantong buah zakar). Testis awalnya terletak di dalam perut, kemudian akan bergeser ke skrotum- namun kadang-kadang hal ini tidak terjadi sempurna.
Sekitar 80% testis yang tidak turun, bisa diraba/terpegang posisinya- namun sisanya tak bisa diraba. Testis bisa “ketinggalan” di lipat paha, atap skrotum, atau kadang-kadang masih di dalam perut. Bisa juga testis “nyasar” ke daerah selain lipat paha (ectopic testis).
Sementara, sekitar 20% testis ini yang belum turun tak teraba. Testis yangtak teraba ini ada di rongga perut sekitar 50-60%, testis nya memang tidak ada (20%) atau mengalami atrofi/rudimenter (sekitar 30%).
Kelainan ini bisa bersifat bawaan, namun bisa juga bersifat dapatan.
Testis yang tidak turun umumnya satu sisi, namun bisa terjadi juga pada kedua testis.
Nama lain undesensus testis: cryptorchidism
Undesensus testis mesti dibedakan dengan retractile testis, dimana testis terletak di bagian atas skrotum akibat refleks kremaster yang over-aktif. Pada pemeriksaan, testis biasanya bisa ditarik kembali ke skrotum. Keadaan retractile testis tidak perlu operasi, namun perlu kontrol rutin ke dokter bedah anak, sebab sekitar 1/3 keadaan retractile testis akan naik dan menjadi undesensus testis.
📊 seberapa sering kondisi ini?
Hal ini terjadi pada sekitar 1-4,6% bayi laki-laki,
⚠️ Kenapa perlu dilakukan terapi
Testis yang belum turun umumnya akan diobservasi sampai usia 6 bulan. Bila sudah di atas usia 6 bulan, maka testis harus dicari dan diturunkan secara bedah. Testis yang tidak berada di tempatnya, akan mengalami kerusakan di tingkat sel, dan mempengaruhi kesuburan si kecil.
Undesensus testis juga berhubungan dengan torsio testis- yaitu keadaan testis terpuntir; dimana hal ini bisa berakibat kematian pada testis. Selain itu, ada juga resiko terjadi keganasan pada testis yg tidak turun.
‼️gejala
Biasanya hal ini sudah diketahui sejak lahir di mana bayi laki-laki akan diperiksa posisi testisnya. Kantung buah zakar tampak kosong dan bila diraba tidak terisi testis.
🎯diagnostik
Umumnya cukup dilakukan pemeriksaan di klinik, namun bila bayi cukup besar dan sulit dilakukan perabaan testis- maka bisa dilakukan USG. MRI perlu dilakukan untuk kasus yang kompleks.
🔪 tindakan
Operasi untuk menurunkan testis disebut sebagai orchidopexy. Bila posisi testis cukup dekat dengan skrotum, maka testis bisa diturunkan satu tahap.
Namun bila testis posisinya “ketinggalan” agak jauh di lipat paha atas atau bahkan di perut, atau tdiak bisa diarab, maka diperlukan operasi laparoskopi- dan operasi dikerjakan bisa satu tahap ataupun bertahap.
Bila ternyata testis yang tak teraba ini disebabkan oleh testis yang tidak terbentuk (mono-orchia)- biasanya testis sisi yang sehat akan dipancang ke skrotum (orchidopeksi).
📆 kapan dilakukan operasi?
Bila usia 6 bulan testis masih belum turun ke skrotum maka harus dilakukan tindakan pembedahan. Terapi harus sudah dimulai pada usia 6 bulan. Idealnya pada usia 12 bulan atau selambatnya pada usia 18 bulan sudah selesai dilakukan tindakan untuk menurunkan testis ke skrotum.
🧑🔬pemeriksaan sebelum operasi
Sebelum tindakan pembedahan maka anak akan diperiksa oleh spesialis anak dan juga spesialis anestesi. Akan ada pemeriksaan darah rutin, dan skrining pembekuan darah (hal ini tergantung kebijakan rumah sakit masing masing). Sebelum operasi, anak akan puasa, dipasang infus, dan diberikan antibiotik pra bedah.
🏥berapa lama operasi dan , berapa lama dirawat?
Umumnya pembedahan tidak berlangsung lama, dan biasanya anak bisa pulang pada hari yang sama.
Pemulihan awal setelah operasi
Setelah selesai operasi, si kecil akan di bawa ke ruang pemulihan. kadang anak tampak bingung dan rewel pasca bedah-namun biasanya hal ini akan pulih segera. Bila anak sadar penuh, maka anak akan dibawa ke ruang rawat semula dan kemudian boleh pulang minimal 3 jam pasca bedah.
Pemulihan pasca bedah
Si kecil akan dibawa ke ruang pemulihan setelah operasi. Kadang anak tampak rewel dan bingung setelah tindakan- namun hal ini biasanya akan pulih cepat. Anak akan diberikan satu macam anti nyeri- namun bisa diberi kombinasi obat bila masih terasa nyeri.
Biasanya si kecil bisa makan biasa setelah operasi. Mual dan muntah kadang terjadi pasca operasi- namun biasanya bersifat sementara. Bila tidak bisa langsung mentoleransi makanan padat, maka berikan dulu minuman dan makanan lunak.
💪🏻 Kembali beraktivitas
⁃ aktivitas:hindari aktivitas berat (misal olahraga berat) dalam 1-2 hari pasca operasi. Olahraga dan berenang dianjurkan dihindari selama 3 minggu pasca bedah.
⁃ sekolah: anak bisa bersekolah bisa sudah merasa nyaman- biasanya bisa kembali dalam beberapa hari
⁃ mandi: bila memakai plester tahan air, mandi boleh dilakukan
⁃ perawatan luka: tidak ada yang spesifik. Umumnya tidak perlu angkat jahitan. Biasanya plester bisa dilepas setelah 1 minggu, dan sesudahnya dioles salep
👀 Hubungi klinik/rumah sakit bila
⁃ luka tampak kemerahan, atau mengeluarkan cairan yang banyak
⁃ Anak sangat kesakitan
⁃ Ada perdarahan dari luka operasi
⁃ Muntah terus menerus pada hari setelah operasi
⁃ Demam
KONTROL KEMBALI
Biasanya anak akan kontrol 1 dan 2 minggu pasca bedah. Kemudian anak harus kontrol secara berkala untuk memastikan posisi testis.
Penyulit
1. Posisi testis naik lagi, -~ 5%
2. Infeksi dan perdarahan, sangat jarang, 1-2%
3. Testis tidak tumbuh
4. Cedera pembuluh darah dan vas deferens
INFORMASI LEBIH LANJUT
Bila ayah/bunda ada pertanyaan lanjutan, silakan kontak kami melalui link berikut.
REFERENSI
1. EAU guidelines on pediatric urology. https://uroweb.org/guidelines/paediatric-urology/chapter/the-guideline













Leave a comment